Beranda > Serba Serbi > Asmara Sekantor, Waspadai “Conflict of Interest”

Asmara Sekantor, Waspadai “Conflict of Interest”


Naksir teman sekerja?

Tak ada yang melarang memang, tapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Pepatah bilang, benih cinta bisa bersemi di mana saja, termasuk di tempat kerja. “Cinta antar-teman sekerja biasanya muncul karena faktor kedekatan fisik,” jelas Yuliana, Senior Consultant Experd. Karyawan kantoran menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor. “Minimal 8 jam sehari. Kantor tak ubahnya rumah kedua. Belum lagi kalau nglembur. Pulang ke rumah langsung istirahat, jarang ada komunikasi internal dengan anggota keluarga maupun lingkungan. Tak heran jika hubungan dengan teman sekerja lama-lama makin dekat,” lanjutnya.

Ambil contoh kedekatan dengan teman sekerja yang sejenis, cewek sama cewek. “Jarang sekali, kan, mereka makan siang dengan orang dari luar kantor, karena waktunya tidak memungkinkan. Pergi makan malam atau ke seminar pun kebanyakan bersama teman sekantor. Belum lagi kalau mereka punya hobi yang sama,” kata Yuli, sapaan akrab Yuliana. Begitu pula dengan teman sekerja lawan jenis.

MENCARI PASANGAN

*Komunitas kantor memang bisa menjadi salah satu pilihan terdekat untuk mencari pasangan. Entah sekadar dijadikan teman atau sahabat, maupun suami/istri. “Nah, karena seringnya ketemu, dan tak jarang mengerjakan proyek bareng, maka pepatah tak kenal tak sayang pun berlaku. Dan itu sangat manusiawi, kok,” ujar Yuli. Meski berniat mencari pasangan di kantor, “Bisa jadi seseorang tak mendapatkan figur ideal di kantornya. Tapi, karena faktor kedekatan tadi, sering bertemu dan berinteraksi, nilai-nilai positif yang ada pada rekan kerja itu pun dirasa cukup memenuhi kriteria ideal sebagai pasangan hidup. Akhirnya, pacaran,” lanjut Yuli. Soal penampilan dan sifat, lanjut Yuli, sama saja dengan mencari pasangan di luar kantor. “Misalnya kalau kita termasuk orang yang gampang cinta pada pandangan pertama. Di kantor pun sama, begitu melihat rekan kerja lumayan, langsung tertarik,” lanjut Yuli seraya membuat analogi tempat ibadah atau sekolah (kuliah). “Di tempat ibadah pun, misalnya gereja atau masjid, kita bisa menemukan pasangan hidup.” Begitu pula di sekolah atau bangku kuliah. “Banyak, kan, suami-istri yang dulunya teman sekolah atau kuliah. Ini, kan, juga karena komunitasnya terseleksi.” Soal kualitas hubungan, Yuli tak melihat ada perbedaan antara pasangan sekantor maupun yang beda kantor. “Asal pacarannya serius, bukan pacaran sesaat. Cuma, seiring berjalannya waktu, hal-hal yang terjadi dan pengalaman selama di kantor memang bisa memengaruhi kualitas hubungan itu sendiri,” jelas Yuli.

WASPADAI SISI NEGATIF

* Tentu, ada sisi positif menjalin hubungan dekat dengan teman sekerja. “Bisa saling mendukung, bisa menambah semangat dan motivasi kerja, selain membuat kinerja lebih efektif,” ujar Yuli. Contohnya, jika sebelumnya pulang kantor tidak terlalu malam supaya bisa ketemu pasangan, setelah pacaran, kegiatan-kegiatan itu bisa dilakukan bersama. “Ketemuan di kantor, makan malam bareng, pulang bareng, sehingga kerja bisa lebih efektif. Artinya, kalau ada tugas-tugas lembur yang harus dilakukan, bisa dilakukan tanpa pertimbangan lain, karena pasangan toh ada di kantor. Malah terkadang bisa diminta menemani,” lanjutnya. Tapi, sisi negatifnya pun ada, lo. Contoh, bagaimana seandainya hubungan tak berujung atau malah kandas di tengah jalan? “Jangankan dengan teman sekantor, pacar sejak kuliah saja masih bisa putus, kok. Dan karena sekantor, politik kantor dan permasalahan yang muncul di kantor pun sama-sama dialami.” Misalnya atasan marah-marah ke semua karyawan. “Itu, kan, berarti marahnya ke kita dan pasangan, sehingga emosi bisa sama-sama tinggi.” Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan selama pacaran, “Komitmen sebelum pacaran sangat perlu dibuat. Juga, pertimbangkan lebih dulu posisi orang yang kita taksir, termasuk konsekuensi seandainya kita menjalin hubungan dengannya,” jelas Yuli sambil menyarankan untuk menghindari hubungan yang sifatnya ke atas dan ke bawah. “Karena mau tidak mau ini akan menimbulkan persepsi tertentu dari penghuni kantor lain.” Misalnya, mendapat promosi karena prestasinya bagus. “Orang lain di kantor tetap akan melihatnya sebagai pilih kasih (favouritism) . ‘Ah, dia, kan, atasannya, jadi pasti diduluin,’ dan sebagainya.” Hindari juga hubungan dengan orang dari divisi yang conflict of interest-nya tinggi. Misalnya, karyawan bagian penjualan dan karyawan bagian produksi, atau bagian penjualan dan bagian keuangan. “Mereka ini, tanpa hubungan pribadi pun sudah gontok-gontokan, kok.” Bagian HRD, lanjut Yuli, lebih sulit. “Buat kita enak, karena bisa curhat. Tapi kalau orang HRD pacaran sama orang di luar bagian HRD, harus hati-hati. Karena pasti muncul conflict of interest. Lebih baik HRD sama HRD.” Yang tak kalah penting, selama pacaran, rahasia pribadi boleh dibuka, tapi rahasia perusahaan harus tetap dijaga. “Itu kode etik perusahaan. Kita harus bersikap profesional.”

BERANTEM DI LUAR KANTOR

Bagaimana jika muncul konflik? “Kembali ke pribadi masing-masing,” jelas Yuli. “Kalau konfliknya menyangkut hubungan pribadi, sebaiknya sedikit mungkin melibatkan orang ketiga. Ingat, orang ketiga baru diperlukan jika memang masalahnya membutuhkan nasihat atau saran orang ketiga.” Kalau tidak butuh orang ketiga, kuncinya adalah komunikasi, tanpa dijembatani siapa pun. Sedekat-dekatnya orang ketiga, lanjut Yuli, “Kalau sudah jadi jembatan, pasti akan ada informasi yang tersaring. Ada informasi yang distortif, ada yang salah interpretasi, dan sebagainya.” Jadi, begitu muncul masalah, sebaiknya komunikasikan berdua, pisahkan persoalan pribadi dan persoalan pekerjaan. “Kalau mau berantem, mending di luar kantor atau di rumah. Selesaikan sebelum ke kantor. Jangan sampai berantem di kantor karena masalah pribadi. Sebisa mungkin, atur mind-set untuk tetap fokus ke pekerjaan. Jika tidak, bisa seperti bola salju yang makin lama makin besar.” Jangan lupa, bikin komitmen di awal hubungan, seperti sudah disinggung di depan. “Saling mengingatkan seandainya sampai ada yang melanggar garis. Dua-duanya harus commit untuk mengembalikan ke jalan yang sudah disepakati.” Pasalnya, apa pun yang terjadi pada hubungan antar-teman sekantor, mau enggak mau pasti akan memengaruhi kualitas kerja dan juga hubungan itu sendiri. “Berantem dengan pacar yang tidak sekantor saja bisa memengaruhi kualitas kerja, apalagi kalau setiap hari ketemu. Mau senyum susah, enggak senyum susah. Belum lagi kalau ada hubungan kerjasama secara langsung,” kata Yuli. “Karena kalau kita bicara soal hubungan (pacaran), pasti emosi akan terlibat. Dan kalau sudah bicara emosi, untuk memisahkannya dengan rasio, perlu trik atau keterampilan khusus. Enggak semua orang bisa. Padahal, kualitas hubungan bisa memengaruhi kualitas performance.” Kedewasaan pribadi memang sangat perlu kalau bicara pacaran di kantor. “Office ethic (etika kerja) harus dijaga,” saran Yuli.

PERLUKAH MEMBUAT “PENGUMUMAN”?

*Seandainya hubungan masih baru, rasanya tak perlu mengumumkan kepada rekan kantor lain tentang hubungan Anda itu. Apalagi kalau pacar beda divisi, misalnya. Tapi kalau keduanya satu divisi, bahkan satu ruang, dan sering mengerjakan proyek bareng, sebaiknya beritahukan hubungan Anda ke teman-teman dekat. Maksudnya supaya jika ada hal-hal yang cukup sensitif, misalnya informasi rahasia, ada orang tertentu yang sudah tahu tentang hubungan kita. “Jadi, informasi itu tak usah disampaikan ke kita. Perilaku di kantor juga harus dijaga, jangan melakukan sesuatu yang bisa memancing gosip.”

BICARAKAN SEJAK AWAL

* Beberapa perusahaan membuat peraturan yang mengharuskan salah satu pasangan suami-istri sekantor pindah unit supaya tidak terjadi conflict of interest. “Nah, siapa yang harus pindah, harus dibicarakan berdua, dan harus mempertimbangkan jenis pekerjaan, posisi, bahkan kalau sudah bicara perkawinan, persoalan kompensasi,” jelas Yuli. Biasanya, mayoritas yang pindah adalah pihak wanita. “Tapi kalau perempuannya sudah mapan, sementara prianya new comer, enggak apa-apa prianya yang pindah.” Pertimbangkan, mana yang harus dikorbankan dan mana yang harus dikejar. “Kalau sudah sampai ke masalah siapa yang harus pindah, tak perlu melibatkan orang-orang kantor, cukup komitmen berdua. Libatkan orang-orang kantor hanya jika itu menyangkut peraturan.” Misalnya apakah memang salah satu harus pindah? Bolehkah tidak pindah? “Itu yang harus ditanyakan dengan teman sekantor atau atasan.” Yang tak kalah penting, sebelum menikah, mulailah nanya-nanya tentang kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan pasangan suami-istri sekantor. “Supaya persiapan melangkah ke jenjang pernikahan lebih bisa matang.”

PILIH-PILIH ORANG KETIGA

* Seandainya akhirnya diperlukan, siapa sebaiknya yang harus dijadikan orang ketiga? “Kalau masalah awalnya persoalan pribadi, lalu memengaruhi kerjaan, maka orang ketiga haruslah orang dekat yang tahu persis perjalanan hubungan seperti apa, tahu sifat-sifat kita, sehingga bisa memberikan saran-saran obyektif,” jelas Yuli. Tapi jika sebaliknya yang terjadi, masalah kantor memengaruhi hubungan pribadi, sebaiknya orang ketiganya adalah orang yang terlibat di pekerjaan itu. “Karena kita butuh orang ketiga yang bisa tetap obyektif dan bisa mengembalikan sudut pandang ke yang obyektif juga. Kalau masalah kantor, lalu kita minta bantuan orang dekat yang tidak tahu masalah kantor, sarannya tidak akan langsung ke penyelesaian masalah kantor,” lanjutnya.

Perlukah melibatkan atasan?

“Kalau levelnya memang harus melibatkan atasan, ya enggak apa-apa.” Yang harus diperhatikan, ketika menyampaikan ke atasan, sebaiknya gaya bahasa dan isi pembicaraan harus tetap profesional. Jangan bertengkar seperti orang pacaran. “Sampaikan apa keberatan kita, apa hal-hal yang belum ia penuhi, dalam konteks pekerjaan. Itu cukup.”

Ingin hubungan berjalan mulus? Simak tips berikut:

* Pikirkan konsekuensi hubungan, termasuk jika hubungan akhirnya kandas. Apa yang akan kita lakukan?

* Tanyakan, mau sampai sejauh mana hubungan tersebut? Apakah sampai ke jenjang perkawinan atau pertemanan saja. Ini harus jelas, supaya ekspetasi kedua pihak sama.

* Kalau memang sudah pacaran, jaga sikap-sikap kerja yang sifatnya etis, seperti menjaga profesionalisme, usahakan berpikir obyektif untuk konteks kerja, pisahkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan, dan jangan berpikir negatif.

Semoga bisa menjadi masukan dan bahan pertimbangan buat para Jomblowan dan Jomblowati yang berniat mencari pasangan bareng satu kantor

Kategori:Serba Serbi
  1. Februari 3, 2010 pukul 22:16

    Waduuh, kena banget eum, tapi initeh nyindir saya apa nyindir yudi juga. heeee

    • Februari 4, 2010 pukul 08:18

      Punten yon,tidak ada maksud sama sekali buat menyindir….(he…
      Sekedar masukan aj buat rekan2 yang mungkin berniat mencari pasangan satu atap.

  2. Februari 4, 2010 pukul 12:30

    Tidak apa-apa, cinta lokasi tidak salah, yang salah itu cinta lokasi tapi tidak jadi

    • Februari 4, 2010 pukul 12:42

      Yang dikhawatirkan jalinan cintanya tidak berujung ke pelaminan,efeknya bisa ke mana2.
      Ke kerjaan..? bisa jadi…
      Apalagi kalo memang ada relationship dengan Dept kita.
      So,bisa dibayangkan..

  3. Februari 4, 2010 pukul 17:03

    Segala sesuatu ada resikonya, harus berfikir dengan matang.

  4. Mei 3, 2013 pukul 07:34

    Lose Belly Fat Rule 5 – abdominal exercises are great for building a strong base.

    Water is also considered as a great waste detoxifier.
    Sweeten the things you must have like coffee or tea with Truvia, Stevia or Xylosweet.

  5. September 10, 2013 pukul 23:24

    Thanks for finally writing about >Asmara Sekantor, Waspadai “Conflict of Interest” |
    Yudhi Website <Liked it!

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: